Badilag Berguru ke Sekolah Bahasa POLRI



Dirjen Badilag Wahyu Widiana (kanan) berbincang dengan Kepala Sebasa Polri, Kombes Pol H M Safei.

Jakarta l badilag.net

Cipinang identik dengan penjara. Lembaga Pemasyarakatan Cipinang tersohor seantero negeri sebagai tempat menghukum pelaku kriminal kelas kakap. Namun, tak banyak yang tahu, di Cipinang juga ada tempat yang inspiratif. Namanya Sekolah Bahasa (Sebasa) Polri.

Gedung Sebasa yang terletak di Jalan Cipinang Baru Raya No. 5 merupakan kawah chandradimuka bagi aparat kepolisian untuk melejitkan kemampuan berbahasa asing. Mereka yang dikirim belajar ke sini adalah polisi-polisi pilihan, baik yang berasal dari Bintara, Perwira, maupun Pamen.

Di sekolah yang gedung utamanya diresmikan oleh Kapolri Jenderal Da’i Bahtiar pada 2005 ini, ada lima bahasa asing yang diajarkan, yakni Inggris (4 kelas), Perancis (3), Arab (2), Mandarin (2) dan Jepang (2). Bahasa Indonesia juga diajarkan, tapi pelajarnya berasal dari luar negeri.

Khusus untuk Bahasa Arab, Sebasa Polri menjalin kerja sama dengan LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab). Sebasa berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri, sedangkan LIPIA dikendalikan oleh Kedutaan Besar Saudi Arabia.

Kenyataan ini memancing minat Dirjen Badilag. Apalagi, belakangan Badilag memang cukup intens mengembangkan Bahasa Arab. Misalnya dengan membangun website dan menyelenggarakan diskusi memakai bahasa Arab, serta melakukan seleksi terhadap aparat peradilan agama yang mahir berbahasa Arab untuk dikirim tugas belajar ke Timur Tengah.

“Karena itu, kami ke sini dalam rangka berguru,” kata Dirjen Badilag Wahyu Widiana kepada Kepala Sekolah Bahasa Polri, Kombes Pol H. M. Safei, Selasa (1/6/2010).

Diceritakan Safei, Bahasa Arab mulai diajarkan di sekolahnya sejak 2004. Alumninya sudah cukup banyak, di antaranya dikirimkan ke kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara untuk misi perdamaian.

Didorong oleh keinginan untuk mendapatkan native speaker yang handal, Sebasa Polri mengubungi LIPIA. “Sebenarnya tidak ada MoU dengan LIPIA. Tapi kami punya hubungan baik sejak lama,” Safei menerangkan.

Saat ini, ada dua penutur asli yang didatangkan dari LIPIA: yang satu dari Saudi Arabia dan satunya lagi dari Tunisia. Mereka mengajar seminggu dua kali.

“Mereka orang-orang professional. Walau cuma dua kali seminggu, tapi sangat bermanfaat buat siswa,” tutur Safei.

Dirjen Badilag menjajal laboratorium Bahasa Perancis

Dibanding dengan bahasa Mandarin dan Jepang, bahasa Arab sesungguhnya lebih diakrabi masyarakat Indonesia. Karena itu, huruf dan bunyi Bahasa Arab tidak asing lagi bagi masyarakat, khususnya yang beragama Islam.

“Untuk kelas Bahasa Arab ini cukup efektif, karena ada yang lulusan pondok pesantren, dan ada juga alumni LIPIA,” Safei menambahkan.

Lebih efektif dan efisien

Pendidikan di Sebasa Polri dibuat per gelombang. Setahun dipilah menjadi tiga gelombang. Para siswa mengenyam pendidikan selama tiga bulan. Mereka dikelompokkan dalam kelas. Tiap kelas terdiri dari 15 siswa.

Mereka diasramakan. Ada sejumlah Tata Tertib yang harus dipatuhi. Salah satunya, tidak boleh berkomunikasi dengan bahasa lain kecuali bahasa yang sedang dipelajari.

“Mereka juga disiplin. Harus on time. Tidak boleh menyalakan HP sembarangan,” Safei menjelaskan.

Selain para native speaker, tenaga pendidik di sini adalah polisi dan PNS di lingkungan Polri. Usia tenaga pendidik ini rata-rata masih muda. Jumlah tenaga pendidik, ditambah personil lainnya, adalah 53 orang.

Selain ruang kelas dan asrama, fasilitas lain yang bisa dimanfaatkan para siswa adalah perpustakaan, laboratorium bahasa dan ruang makan bersama. Di tempat-tempat itu, mereka dapat mengasah kemampuan berbahasa asing.

Safei mengungkapkan, dengan sistem ini, pendidikan di Sebasa berlangsung efektif dan efisien. “Di sini belajarnya lebih intensif, hasilnya juga bagus. Selain itu juga lebih murah dibanding misalnya belajar bahasa asing di tempat lain,” ujarnya.

Sebasa Polri hanya ada di Jakarta. Namun demikian, para alumni Sebasa Polri kini sudah tersebar di seantero negeri. “Mereka punya credit point tersendiri jika lulusan Sebasa dan menguasai bahasa asing,” Safei menambahkan.


Dirjen Badilag berdilalog dengan para siswa Sebasa Polri.

Dirjen Badilag memanfaatkan kunjungan singkat ini dengan melihat langsung proses belajar-mengajar di kelas. Dirjen juga sempat berdialog dengan peserta didik memakai bahasa Inggris. Di samping itu, Wahyu Widiana juga menjajal laboratorium bahasa Perancis.

Meski kunjungan ini hanya berlangsung singkat, Dirjen Badilag mengaku mendapatkan banyak inspirasi. Ke depan, tidak tertutup kemungkinan Ditjen Badilag akan menjalin kerjasama dengan Sebasa Polri untuk meningkatkan kemampuan warga peradilan agama dalam berbahasa asing, khususnya Inggris dan Arab.

“Kami akan melaporkannya kepada pimpinan MA dan menginformasikannya kepada Balitbang Diklat MA,” Wahyu Widiana menuturkan.

(hermansyah)

sumber : www.badilag.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s